Senin, 20 Desember 2010

Aku Hanya Sebuah Kertas Tiada Berdaya

Inspired By : Intan Aisyah

Aku hanyalah sebuah kertas, kertas putih bersih yang aku kira tiada bernoda.
Aku hanyalah sebuah kertas, kertas kosong yang memiliki tiada tulisan.
Tiada tulisan, yang aku kira tiada pena yang mau menghampiri aku.
Atau, aku yang telah menutup diri kepada pena yang lain hanya mengharapkan kehadiran satu pena ?
Ya, aku memimpikan kehadiran sebuah pena yang selama ini selalu hadir dalam pikiran imajinerku.

Aku hanyalah sebuah kertas, kertas putih yang tiada memiliki upaya.
Aku hanyalah sebuah kertas, kertas putih yang tiada berdaya.
Aku hanya bisa menunggu pena itu untuk menuliskan syair-syair cinta di tubuhku.
Aku ingin menghampiri pena itu, tetapi aku hanyalah sebuah kertas yang hanya bisa menanti.
Menanti, menanti, dan terus menanti.

Aku ingin melawan kodratku sebagai sebuah kertas, tapi apakah mungkin ?
Apakah aku sanggup ?
Aku hanya tercipta sebagai sebuah kertas yang menanti kehadiranmu, wahai pena cinta.

Penantianku tidak akan terhenti hanya karena pena-pena lain yang akan menggoreskan tintanya padaku.
Aku yakin pena yang ada dalam imajinasiku akan menggoreskan tinta emas berbuah kasih sayangnya padaku.
Lelah bukanlah bahagian dari hidupku, walaupun aku hanyalah sebuah kertas.

Hingga suatu waktu, penantian yang aku harapkan akan segera terwujud.
Pena nan indah itu ternyata bukan hanya ada dalam khayalanku.
Alangkah indahnya pena itu.
Aku merasa bahwa aku adalah kertas paling beruntung di antara kertas-kertas lainnya.
Aku tidak bisa menahan gejolak di dalam diriku untuk menantikan bait-bait puisi nan syahdu yang akan dia goreskan padaku.

Tapi, apa yang terjadi ?
Kau datang membawa tinta berdarah padaku.
Kau datang membawa tinta kehancuran padaku.
Kau datang membawa tinta kenestapaan padaku.

Kau goreskan syair-syair lirih padaku.
Kau goreskan bait-bait kehancuran padaku.
Kau goreskan lirik-lirik lagu kebencian padaku.
Apa salahku padamu wahai pena nan indah ?
Apa ? Apa ?

Aku hanya sebuah kertas yang menanti syair-syair cinta darimu, apa aku salah ?
Kau buatku hancur, kau buat ku pupus, kau buatku nestapa.
Pena nan suci yang dalam imajinasi kini berubah jadi pena nan kejam, yang tega merusak penantianku.
Aku hancur, aku benar-benar hancur.

Kini aku merasa, aku telah menjadi kertas yang paling lusuh, kusam, dan tiada berarti.
Kau jadikan aku abu yang beterbangan dan tiada berguna lagi.
Aku yang dulu sebuah kertas putih telah menjadi abu yang tiada memiliki bentuk.
Itu semua karena kau wahai pena nan menawan.
Betapa malangnya aku.

Tapi di dalam jiwa aku merenung,
Suatu saat kau akan membutuhkan aku yang telah kau jadikan abu.
Kau akan memanggilku kembali, untuk mengisi kekosongan tintamu, dan aku siap menemanimu walau hanya sebagai abu.

2 komentar:

  1. Assehhh...
    Inspired by Intan Aisyah !!!
    Ada apakah gerangan antara dua insan ini...???
    Hhe...

    BalasHapus